"Blessed are you when people insult you, persecute you and falsely say all kinds of evil against you because of Me. Rejoice and be glad, because great is your reward in heaven, for in the same way they persecuted the prophets who were before you."Matthew 5:11-12 :')
Selasa, 18 September 2012
Allah Pembelaku..
Kamis, 02 Agustus 2012
When Everything Seems So Wrong
Saat itu 6 Juli, hari yang ditunggu-tunggu oleh setiap
peserta SNMPTN. Hari dimana para pengadu nasib menuai apa yang telah mereka
tabur.
Yes, I’m one of them. Sama seperti mereka yang lainnya, gue juga
menunggu-nunggu hasilnya. Dimanakah gue akan berkuliah nanti. Tapi entah kenapa
gue gak gugup waktu mau buka website pengumuman itu. Perasaan gue lebih ke..
Berserah, atau pasrah, atau apalah itu, yang pasti gue gak mau expect too much
dengan hasilnya, takut entar sakit ati kalo ternyata gak lulus.
Dann, gue dinyatakan lulus di pilihan ketiga gue. UPI. Akuntansi.
Seharusnya gue seneng. Tapi gue malah bingung saat itu. Karena
passing grade gue harusnya ga nyampe buat lolos disitu, passing grade gue justru
nyampe-nya di pilihan kedua (pilihan kedua gue passing gradenya lebih rendah daripada yang ketiga, beda jurusan) walaupun pas-pasan (gue ambil IPC).
Sementara semua orang sibuk kasih selametan ke gue, gue
iya-iya aja, tapi masih dengan perasaan bingung-setengah linglung. Kok lulusnya yang ini sih, God? Kata gue
dalam hati, harusnya bukan ini.. Bukan ini yang gue mau. Gue gak mau di
Bandung. Gue maunya Jakarta.
Yes it was
my plan, tapi kemudian gue berpikir kalo bukan disitu tempat yang
tepat bagi gue untuk ngejar mimpi gue. Musik. Dan gue ga lolos SIMAK UI.
Habislah harapan gue. Gaada lagi jalan lain buat ngegapai cita-cita gue jadi pemusik. Dan UI.. was one of my dreams.
Tetapi kemudian gue diingatkan kembali.
Bahkan di postingan gue yang lalu gue pernah bilang,
“Sekeras apapun usaha kamu buat ngewujudin keinginan kamu, kalo itu gak sesuai dengan kehendak Tuhan, itu bakalan sia-sia. Kamu PASTI gagal.”
Dan, apakah rencana-rencana yang gue susun untuk kuliah di
Jakarta itu bakal mendatangkan kemuliaan bagi Sang Pencipta gue, atau bagi diri
gue sendiri?
Dan, apakah rencana-rencana yang gue susun untuk kuliah di
Jakarta itu bakal mendatangkan kemuliaan bagi Sang Pencipta gue, atau bagi diri
gue sendiri?
Gue juga lupa untuk bersyukur.. Gue tersentak.
Ya, ini ternyata emang salah di gue. Lagian
kan ga mesti di Jakarta gue bisa ngewujudin mimpi gue. Di Bandung juga bisa.
Walaupun banyak temen-temen gue dan lain-lain yang bahkan gaktau universitas
tempat gue kuliah, it’s okay. Mungkin, kalo kemarin gue lulus di UI, gue
bakalan jadi sombong, main musik buat keren-kerenan gue doang. Disini Sang
Pencipta gue mengajari gue untuk (kembali) belajar menjadi rendah hati. Gue
yakin bahwa Dia bakal mengangkat orang yang mau rendah hati dan berserah pada-Nya. Dan bahwa kalo emang musik itu
panggilan hidup gue, lewat jalan apapun Dia bakal buka jalan. Gue cuma perlu menikmati prosesnya.
Selama gue menyerahkan rencana gue pada-Nya.
Selama gue hidup sesuai dengan kehendak-Nya.
It might be hard, but just remember, He's still with you. Always.
Put God in charge of your work, then what you've planned will take place.
Proverbs 16:3 – The
Message Bible
Label:
believe,
God's Plan,
love,
process of life
Selasa, 26 Juni 2012
Passion
It’s all about passion, dan apa yang menjadi tujuan hidup kita. Kamu nggak hidup untuk nyenengin hati orang lain. You live to fulfill your life’s calling.
Emang kenyataannya nggak semudah yang dibayangkan. Kadangkala kita diperhadapkan dengan situasi dimana ngga semua orang bisa nerima panggilan hidup kita, cuma karna panggilan kita ‘berbeda’ dengan orang kebanyakan.Passion itu apa sih emangnya? Intinya, menurut seminarnya Pak Paulus Winarto yang gue ikutin beberapa waktu lalu, passion itu sesuatu yang bener-bener kita sukai/kita cintai. Kalo itu berupa pekerjaan, kita bisa ampe lupa waktu kalo ngerjain hal itu dan kita rela dan senang hati ngerjain pekerjaan itu, walaupun ga dibayar.
Contohnya, ya, gue. Gue seneng musik, bermain musik, dan gue pengen menjadi pemusik karena it’s my passion. But not everyone accept it. Gue heran dengan banyak orang yang nganggep musik itu ngga cocok dijadiin pekerjaan. Musik itu ga menjanjikan. Pemusik itu hidupnya ngga jelas. Musik itu cocoknya dijadiin sampingan aja. Heeeeyy, kita hidup ngga cuma buat makan aja lho. Kesuksesan, kebahagiaan ngga diukur dari seberapa banyak gaji kita, seberapa keren posisi kita dalam pekerjaan. Buat apa kerja dengan gaji besar tapi ngga bahagia, punya pekerjaan bagus tapiii kita gak bisa ngelakuin yang maksimal, memberikan hasil yang terbaik dari apa yang kita kerjain? Percuma. It’s worthless.
Panggilan hidup itu sangat berhubungan dengan passion. Pak
Paulus Winarto, dalam salah satu seminarnya (yang sangat membuat gue diberkati)
pernah bilang, do what you love and the
money will follow. Kalo kita ngelakuin apa yang kita suka dan apa yang
menjadi passion kita, kita pasti bakal melakukannya dengan segenap hati, jadi
bakal ngehasilin yang maksimal juga.
Jadi gimana siiiih cara nemuin passion kitaa? Coba
renungkan, hal apa sih yang lo suka lakuin, yang kalo kamu kerjain itu bisa
bikin lo lupa waktu karna lo keasyikan melakukannya (ini ngga berlaku buat
online seharian yaaa -___-). Misalnya lo suka ngegambar atau desain
sampe-sampe lo kalo udah ngegambar bisa sampe lupa makan, dan banyak contoh
lainnya yang bisa diambil.
Passion tersebut harus mempunyai konfirmasinya juga,
misalnya dari orang-orang terdekat elo. Kita ambil contoh tadi, hobi lo ngegambar itu sering dipuji sama temen-temen elo, banyak yang bilang gambar
kamu bagus, berarti kemungkinan besar lo emang punya bakat di bidang itu.
Ngomong-ngomong, kembali lagi ke cerita gue. Gue saat ini lagi berjuang buat masuk kuliah. Rencana gue mau ngambil jurusan psikologi atau arsitektur interior atau akuntansi. Kalo mau dibilang yaah sebenernya gue maunya kuliah musik, tapi ortu engga ngizinin, karena itu tadi, ngga menjanjikan dsb. Ditambah lagi dengan penyakit alergi gue yang suka menjadi-jadi kalo kecapekan. Tapi gue engga kecewa kok. Akhirnya gue mikir jurusan-jurusan kuliah yang ga terlalu berat, yang ga bakal ngeganggu kehidupan permusikan gue. Dan gue milih universitas di kota-kota yang dimana kira-kira kalo gue main musik bakalan berkembang (hehe ribet yaa). Gue pernah baca tweetnya Barry Likumahuwa yang bilang "Jadi pemusik ga mesti sekolah musik." Ini yang membakar semangat gue. Selama ini gue belajar lagu-lagu baru cuma lewat telinga terus nyoba-nyoba sendiri, eh akhirnya dapet. Dulu pernah sih les piano, tapi udah berhenti. Lagian waktu itu gue engga terlalu suka baca partitur.
Sampaai akhirnya kemarin, tanggal 22-23 Juni, gue nonton Asean Jazz. gue ngeliat musisi-musisinya keren-keren banget mainnya. Dan yang baru gue tau, banyak dari mereka yang engga latian sebelum nampil, cuma berbekalkan baca partitur doang. Ini yang membuat gue terhenyak.. Gue nyesel selama ini males latihan baca partitur.. Terlalu ngebanggain diri gue yang bisa belajar sendiri dari apa yang gue denger. Then I realized that I was nothing.
Daan sekarang gue memutuskan buat berubah. Gue pengen les musik lagi, buat ngelancarin pembacaan partitur gue. Setelah gue cari-cari, ada lembaga kursus musik yang terkenal di Jakarta, dan rata-rata lulusannya oke-oke. Sekarang tinggal ngusahain supaya gue bisa keterima kuliah di Jakarta, dan minta izin buat les sama ortu gue haha.
Tapi satu hal yang ga boleh dilupain. Serahin semua rencana sama Tuhan, may His favor comes upon me. Amen. Karena manusia boleh berencana, tapi Tuhan-lah yang menentukan, rite?
Love,
ellagracia
Btw, gue mau share ah foto-foto bareng gue dengan para musisi di Asean Jazz kemaren. Ka Siska numpang share yaa :D
With Demas Narawangsa, drummer (cute, huh?)
With Rieke, pianist
With Shadu Rasjidi, bassist
With Sri Hanuraga, pianist (kalo yang ini favorit gue, mainnya kereen banget!)
Langganan:
Komentar (Atom)



.jpg)